Esensi: Dibalik Pelemahan Rupiah, Negara Diperkirakan Kantongi Keuntungan Rp9,5 Triliun

ilustrasi
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (dua dari kanan) | Dok. Kementerian Keuangan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini, rupanya tidak terlalu mengganggu kas negara, bahkan memberikan sedikit keuntungan tersendiri bagi negara.

Kementerian Keuangan menyatakan, di tengah kondisi situasi perekonomian global yang dinamis saat ini, kondisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 berada pada keadaan yang masih cukup baik. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dihadapan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

  1. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim APBN 2018 tetap positif, meski nilai tukar rupiah bergerak melemah. Pelemahan nilai tukar saat ini diperkirakan bikin kas negara justru untung Rp9,5 triliun.
  2. Hitung-hitungan Sri Mulyani, setiap pelemahan rupiah Rp 100,- terhadap dolar AS berdampak pada kenaikan penerimaan negara Rp4,7 triliun dan belanja Rp3,1 triliun. “Sebetulnya kami tidak memakai istilah ‘untung-rugi’, karena prinsip mengelola APBN bukan masalah ‘untung-rugi’. Tapi (dampak rupiah yang membuat) kenaikan penerimaan yang lebih tinggi dari belanja, artinya APBN masih positif Rp1,6 triliun,” kata Sri Mulyani, seperti yang dilansir dari CNNIndonesia.com, Selasa (11/9/2018).
  3. Sri Mulyani menjabarkan, pelemahan rupiah sejak awal tahun membuat penerimaan negara dari pos Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh 24,3% sampai 31 Agustus 2018. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, PNBP hanya tumbuh 20,2%.
  4. Selain itu, kata Sri Mulyani, pelemahan rupiah turut memberi dampak pada pos penerimaan pajak. Penerimaan pajak, sudah tumbuh di kisaran 16,5% pada tahun ini. Sedangkan tahun lalu periode yang sama, baru 9,5%. “Secara keseluruhan, penerimaan negara sudah tumbuh 18,4%, sedangkan tahun lalu di kisaran 11%,” imbuhnya.

Info Terkait

  1. Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, penerimaan negara sampai 31 Agustus 2018 telah mencapai Rp1.152,7 triliun atau 60,8% dari target Rp1.894,7 triliun. “Realisasi penerimaan kita Rp1.152,7 triliun untuk 2018, atau 60,8% dari total penerimaan,” ujar Sri Mulyani, seperti dikutip dari Detik.com, Selasa (11/9/2018).
  2. Menurutnya, kondisi pertumbuhan penerimaan negara sampai akhir Agustus 2018 tersebut merupakan capaian yang tertinggi selama tiga tahun terakhir. Sementara, lanjut Sri Mulyani, dari sisi belanja negara, Pemerintah juga dapat merealisasikannya dengan baik, di mana mengalami pertumbuhan 8,7%.
  3. Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu yang hanya sekitar 5,6%. “Jadi dengan akselerasi ini belanja juga tetap tinggi, namun karena penerimaan negara kita lebih tinggi maka primary balance kita masih rendah atau bahkan per 31 Agustus justru positif Rp11,5 triliun. Jadi APBN kita dalam kondisi sekarang, cukup baik,” jelas Sri Mulayani, yang dilansir dari Bisnis.com, Selasa (11/9/2018).
  4. Meski demikian, pihaknya tetap akan berhati-hati dalam menjalankan APBN terutama di tengah ketidakpastian global, mulai dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, kebijakan normalisasi moneter di AS, hingga krisis ekonomi di negara berkembang seperti Turki dan Argentina.(DD)